Sabtu, 19 Januari 2013

Peran Elite Kekuasaan di Pedesaan dan Rutinisasi Kekuasaan Lokal


                                                

 disusun oleh :
Chandra Boy
M. Luthfi Ersa. F
Miranda Maulidya
Robi Amrullah
Siti Khodijahn


Abstrak
Tulisan ini ditulis untuk mengetahui peranan kepala desa sebagai elite kekuasaan serta rutinisasi kekuasaan yang berada di desa Tanjung Burung. Kepala desa sebagai elite kekuasaan mempunyai peran penting bagi kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakatnya. Tulisan ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah sosiologi pedesaan. Tulisan ini dibuat dengan metode kualitatif, yakni berdasarkan observasi dan hasil wawancara kepada beberapa masyarakat Tanjung Burung. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan maka dapat dikatakan bahwa kepala desa yang menjabat saat ini di Tanjung Burung karena faktor kharisma yang dimililki oleh ayahnya yang merupakan kepala desa sebelumnya. Masyarakat yang pada akhirnya memilih Rusdiyono saat ini diakui karena faktor  balas budi  kepada Buang Muhadi ayah Rusdiyono selama ia menjabat sebagai kepala desa Tanjung Burung.

Pengantar
Tulisan ini ingin melihat Bagaimana Peran Elite Kekuasaan (Elite Pemerintahan) di Pedesaan dan Rutinisasi Kekuasaan Lokal: Kepala Desa di Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.
Setelah menjalani Observasi di lapangan, penulis dapat mengetahui bahwa Kepala Desa Tanjung Burung ini merupakan kepala desa yang terpilih berdasarkan kesan  kepemimpinan orang tuanya. Realitasnya alm. Ayah dari Kepala Desa tersebut dahulunya merupakan seorang Kepala Desa yang sangat dihormati dan disegani karena dapat memberikan kesan yang baik terhadap masyarakatnya. Itulah sebabnya mengapa Kepala Desa Tanjung Burung saat ini diberi kepercayaan oleh masyarakatnya untuk menjadi Kepala Desa.
Istilah elite berasal dari kata eligere yang berarti memilih; dalam perkataan biasa, kata itu berarti bagian yang menjadi pilihan atau bunga suatu bangsa, budaya, kelompok usia, dan juga orang-orang yang menduduki posisi sosial yang tinggi. Dalam arti yang paling umum, elite menunjuk pada sekelompok orang yang di dalam masyarakat menempati kedudukan-kedudukan tinggi.
Dari pengertian di atas kita dapat memahami elite adalah orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan politik yang sangat tinggi terhadap orang atau kelompok lain. Dalam masyarakat kita mengenal adanya elite pemerintahan dan elite non pemerintahan. Elite pemerintahan berupa para pejabat yang bekerja di kantor pemerintahan seperti Gubernur, Bupati, Kepala Desa dan lain-lain.
Tulisan ini dibuat dengan metode kualitatif, yakni berdasarkan observasi dan hasil wawancara kepada beberapa masyarakat Tanjung Burung.
Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang memiliki kekuasaan adalah kharisma[1]. Hal inilah yang menjadi penyebab Bapak Rusdiyono menjadi Kepala Desa. Masyarakat tidak melihat hal lain yang justru sangat penting untuk menjadikan seseorang menjadi elite/Kepala Desa saat itu yaitu intelektualitas yaitu kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Kemampuan itu belum terlihat dari kepemimpinan Bapak Rusdiyono yang telah menjabat selama kurang lebih dua tahun[2]. Hal ini terbukti dari keluhan masyarakat mengenai kepemimpinannya dan tidak adanya dasar pengetahuan dan pengalaman sebagai seorang pemimpin karena Rusdiyono sebelumnya bekerja di pabrik koper dan tas. Masyarakat yang semula menyimpan harapan besar kepada Rusdiyono ini untuk memimpin desa Tanjung Burung menjadi desa yang lebih maju dan baik ternyata hal ini belum terwujud, harapan masyarakat ini didorong oleh perasaan mengingat jasa-jasa yang telah dilakukan oleh mendiang bapak Rusdiyono ini.
Setelah penulis melakukan wawancara kepada penduduk serta salah satu elite non pemerintahan yaitu tokoh agama yaitu Bapak Sanurbi[3], terdapat kesamaan yang merasa bahwa saat ini peran kepala desa belum terlalu dapat dirasakan dengan baik oleh masyarakat. Lima orang ibu-ibu yang penulis wawancarai berkeluh kesah mengenai kepemipinan Bapak Rusdiyono. Terlihat adanya penyesalan dan kekecewaan yang mendalam di masyarakat.
Tulisan ini akan disajikan dalam empat bagian. Pertama, pengantar terkait keterangan awal permasalahan pokok dan tujuan penulisan. Kedua, sketsa kepemimpinan kepala desa di Tanjung Burung. Ketiga, pandangan masyarakat terhadap kepala desa. Keempat, Strategi Politik Kepala Desa dalam Mempertahankan Kekuasaan. Kelima, penjelasan mengenai Kekuasaan elite dan rutinisasi kekuasaan dalam tinjuan teoritis. Keenam, penutup, menjelaskan intisari dari tulisan  secara garis besar dan mengulas kembali hal-hal pokok yang menjadi permasalahan dalam tulisan, serta menarik kesimpulan tulisan tersebut.

Sketsa Kepemimpinan Kepala Desa di Tanjung Burung
Desa Tanjung Burung terbentuk sejak 1984 yang pada masa waktu itu Desa Tanjung Burung merupakan bagian dari wilayah Desa Pangkalan. Aapun pada waktu itu Desa Tanjung Burung pertama kali dipimpin oleh seorang pahlawan dan sebagai panutan masyarakat yang bernama Bapak Suryana. Beliau memimpin Kepemerintahan Desa Tanjung dari tahun 1984-1985. Pada tahun 1985 pergantian kepemimpinan terjadi dengan menggunakan sistem Demokrasi. Ada tiga orang calon Kepala Desa pada saat itu dan yang terpilih menjadi pengganti pengganti Kepala Desa sebelumnya adalah Bapak Buang Muhadi(1985-1993). Pada tahun 1993 terjadi pergantian kepemimpinan oleh Bapak Arif Naskur dari tahun 1993-2001. Dan kembali Bapak Buang Muhadi terpilih menjadi Kepala Desa pada periode 2001-2003, namun kepemimpinannya dialihkan secara demokrasi kepada Bapak Masta kala itu, karena Bapak Buang Muhadi meninggal dunia dalam keadaan sakit. Sepanjang tahun 2003-2009, Bapak Masta menjabat sebagai Kepala Desa. Pada periode berikutnya, di tahun 2010 kepemimpinan Kepala Desa digantikan oleh Bapak Rusdiyono yang merupakan anak dari Mantan Kepala Desa terdahulu, yaitu Alm.Buang Muhadi.
Sebagai kepala desa yang memiliki seorang ayah yang juga merupakan kepala desa sebelumnya di Tanjung Burung tampaknya dapat membantu Rusdiyono untuk mendapatkan kepercayaan serta simpati yang tinggi dari masyarakat. Kekuasaan yang turun temurun ini lazim disebut sebagai rutinisasi kekuasaan. Rutinisasi kekuasaan ini bukan merupakan hal yang baru dalam hal cara memperoleh kekuasaan. Salah satu faktor pendorong yang membuat seseorang memilki kekuasaan ialah kharisma.  Faktor itulah yang  dimiliki oleh Rusdiyono sehingga bukan suatu hal yang sulit untuk menjadi kepala desa. Kharisma yang dimiliki oleh ayahnya sangat terasa dan membuat masyarakat beranggapan bahwa kharisma yang dimiliki oleh Buang Muhadi ini akan menurun kepada anaknya yakni Rusdiyono.
Berdasarkan penuturan Rusdiyono, “menjadi kepala desa bagaikan mimpi” karena   pada awalnya dia hanya bekerja di pabrik tas dan koper tanpa ada niatan untuk menjadi kepala desa. Ayahnya yang bernama Buang Muhadi merupakan kepala desa Tanjung Burung yang menjabat selama 8 tahun atau dua periode kekuasaan. Sebagai kepala desa tampaknya Buang Muhadi merupakan sosok yang memberi kesan baik bagi masyarakatnya. Adanya image yang baik dari masyarakat terhadap Buang Muhadi menjadi salah satu faktor yang mendorong Rusdiyono untuk menjadi kepala desa. Selama menjadi kepala desa Buang Muhadi mampu menjadi seorang pemimpin yang baik di mata masyarakat, ia menjadi pemimpin yang disegani oleh masyarakatnya.[4]
Pada tahun 2005 Buang Muhadi meninggal dunia, masyarakat merasa kehilangan sosok pemimpin yang berkharisma[5] oleh karena itu Rusdiyono sebagai anaknya mendapat dorongan dari masyarakat untuk maju mencalonkan diri sebagai kepala desa dengan harapan bahwa Rusdiyono mampu menjadi kepala desa  seperti ayahnya bahkan lebih baik. Dorongan dari masyarakat ini yang kemudian membuat Rusdiyono memberanikan diri untuk mengikuti pemilihan kepala desa. Selang dua tahun setelah ayahnya meninggal yakni tahun 2007 Rusdiyono mulai mencari dukungan dan simpati yang lebih banyak dari masyarakat.
Selama tiga tahun (2007-2010) Rusdiyono mulai lebih mendekatkan diri serta berbaur dengan masyarakat. Ini dilakukan dengan tujuan agar dapat lebih menarik simpati dan dukungan penuh untuk menjadi kepala desa yang memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Pemilihan kepala desa ini berlangsung pada tahun 2010 dan adapun kandidat lainnya  ialah  Masta. Dengan dua kandidat ini suara dan simpati masyarakat terbagi menjadi dua yakni dukungan untuk Rusdiyono dan Masta.
Sudah menjadi tradisi politik di Tanjung Burung apabila diadakan pemilihan kepala desa maka masing-masing kandidat mempunyai simbol warna tersendiri agar dapat membedakan dari lawannya. Simbol warna yang terdapat dalam pemilihan saat itu yakni warna kuning dan merah. Menurut penuturan Rusdiyono, simbol warna ini bukan berarti simbol warna dari partai politik tertentu. Rusdiyono mengaku dia bukan merupakan anggota dari partai politik tertentu.
Walau tanpa adanya pengalaman dan pengetahuan mengenai perpolitikan, itu bukan menjadi kendala bagi kedua kandidat, khususnya bagi Rusdiyono yang merupakan lulusan SMA tanpa adanya bekal pengetahuan untuk menjadi kepala desa. Persyaratan untuk menjadi kepala desa di Tanjung Burung adalah usia minimal 25 tahun dengan pendidikan terakhir SMP. Dua persyaratan ini bukan sesuatu hal yang sulit bagi dua kandidat. Rusdiyono yang pada saat pencalonan berumur 25 tahun dengan mudah dapat mencalonkan diri.
Inilah struktur pemerintahan lokal yang ada di desa Tanjung Burung selama periode 2010-2014:
Tingkat intelektual yang tinggi serta pengalaman menjadi seorang pemimpin nampaknya bukan prioritas utama yang diperhatikan serta dilihat masyarakat untuk memilih kepala desanya. Dua hal ini seharusnya yang menjadi perhatian dan pertimbangan bagi masyarakat Tanjung Burung untuk memilih kepala desa. Namun masyarakat Tanjung Burung lebih percaya kepada faktor kharisma serta faktor politik uang[6]. Bukan sesuatu yang aneh dan tabu bagi sistem politik Indonesia apabila dalam hal menarik simpati dan dukungan menggunakan cara membagi-bagikan uang kepada masyarakatnya. Itu pula yang terjadi di Tanjung Burung sebagai masyarakat yang awam tampaknya faktor uang mampu memudahkan untuk mendapat dukungan dan simpati.
Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa Rusdiyono terpilih menjadi kepala desa dikarenakan adanya faktor kharisma yang dimiliki oleh ayahnya serta politik uang yang dilakukannya. Adanya kepercayaan dari masyarakat yang akhirnya memilih Rusdiyono sebagai kepala desa Tanjung Burung ini dibentuk karena pada umumnya masyarakat desa dalam hal menentukan pemimpinnya cenderung sama karena mereka memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri mereka masing-masing dengan orang lain. Membandingkan diri dengan orang lain ini merupakan ukuran masyarakat dalam menentukan sikapnya apakah pandangan dan pilihannya terhadap orang yang akan dipilihnya benar atau salah. Dalam masyarakat desa terdapat pandangan  bahwa seseorang yang berbeda sikap dan pandangannya terhadap kenyataan sosial yang dalam hal ini memilih kepala desa dengan lingkungan serta anggota masyarakat lain akan dianggap aneh dan merupakan sesuatu yang tidak lazim dengan resiko akan dikucilkan. Dalam kasus ini, adanya kepercayaan yang tinggi dari masyarakat yang akhirnya memilih Rusdiyono sebagai kepala desa merupakan sikap masyarakat yang terbentuk dari faktor perbandingan atau lingkungan sosial yang kemudian dapat menyeragamkan dan menyatukan dukungan dan pilihan terhadap Rusdiyono.

Pendapat Masyarakat tentang Kekuasaan Turun Temurun
Jabatan Kepala Desa yang didapat oleh Rusdiyono tidak terlepas dari dukungan masyarakat desa Tanjung Burung terhadap dirinya. Dukungan tersebut ada yang benar-benar didapat karena masyarakat merasakan ketulusan dirinya dalam memimpin di desa Tanjung Burung namun ada juga beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat sekitar akhirnya mendukung dan memilih dirinya untuk menjabat sebagai Kepala Desa. Sebagaimana hasil wawancara penulis terhadap beberapa masyarakat yaitu salah satunya Ibu Mia yang mengatakan bahwa ia memilih Rusdiyono sebagai Kades karena ia bosan dengan kandidat kades yang itu-itu saja tanpa ada perubahan dari tahun ke tahun. Berikut penuturan Ibu Mia;
“Iya neng, saya bosan masa pak Masta nyalon terus. Yaudah karena ngga ada pilihan lain saya pilih pak Rudisyono aja deh.”[7]
Berbeda dengan Ibu Isah yang mengatakan mengapa alasan ia memilih Rusdiyono sebagai Kades adalah ia merasa selama sebelum menjadi Kades Rusdiyono banyak membantu warga sekitar dengan berbagai cara yang dilakukannya salah satunya ketika ada salah satu warga yang meninggal dunia maka Rusdiyono akan memberikan support untuk keluarga yang ditinggalkan baik dalam bentuk materi maupun nonmateri. Namun, meskipun merasa Rusdiyono cukup tulus menjadi kades dan memimpin desa Tanjung Burung. Isah tidak menolak ketika tim penulis menanyakan apakah ada taktik ‘serangan fajar’ dari Rusdiyono dalam melancarkan jalannya menjadi Kades.
“Pak Rusdiyono itu orangnya baik mas kayanya jadi saya milih dia, ya meskipun dia juga ngelakuin serangan fajar itu. Dulu kan bapaknya juga Kades jadi mungkin dia malu kalo ngga kepilih jadi Kades juga makanya dia ngelakuin hal-hal seperti itu. Tapi sebelum jadi Kades dia banyak ngebantuin warga kok ya meskipun setelah jadi Kades belum terasa apa manfaatnya dia.”[8]
Masyarakat sekitar tidak berfikir kekuasaan yang didapat Rusdiyono sekarang merupakan hasil dari turun menurun karena masyarakat kebanyakan memilih Rusdiyono bukan dari aura kharismatik ayahnya atau aura kharismatik dari Rusdiyono itu sendiri. Banyak sebab dan motif mengapa Rusdiyono dipilih sebagai Kades sebagaimana yang telah dituliskan.

Strategi Politik Kepala Desa dalam Mempertahankan Kekuasaan
Ketika seseorang ingin menjadi penguasa di suatu desa, pastinya dia akan melakukan segala cara untuk menarik simpatisan oleh warganya. Tidak terkecuali dalam pemilihan kepala desa Tanjung Burung. Pada waktu akan dilakukan pemilihan kepala desa sang calon sudah melakukan berbagai cara manuver untuk menarik massa. Salah satunya adalah Bapak Rusdiyono yang kini menjadi kepala desa Tanjung Burung.
Selama sekitar tiga tahun dia berusaha untuk mencari dukungan. Awalnya dia tidak ngomong secara langsung jika dia ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa karena pada saat itu usianya masih sekitar 23 tahun. Sejak tahun 2008 hingga 2009 dia melakukan pendekatan secara personal kepada warga, suka berbaur atau ikut ngumpul dengan warga setiap ada acara apapun. Pada akhir tahun 2009 baru Bapak Rusdiyono buka suara bahwa dia akan mencalonkan diri menjadi kepala desa. Dengan strategi awal tersebut, warga cukup antusias menanggapinya. Beliau menggunakan modal Trust yang telah dibangun untuk memantapkan diri maju ke dalam pemilihan umum. Ketika mencalonkan diri pada 2010 usia pak Rusdiyono sudah genap 25 tahun yang merupakan batas usia minimal bagi seorang calon kepala desa di Tanjung Burung.
Berdasarkan hasil wawancara, bagi penulis bapak Rusdiyono secara pribadi merupakan calon yang paling minim, dari segi dana ataupun pengalaman. Walaupun pada akhirnya ia terpilih menjadi kepala Desa Tanjung Burung mengalahkan saingannya yang merupakan kepala desa sebelumnya yaitu Pak Masta. Dapat dikatakan jatuhnya pilihan masyarakat kepada bapak Rusdiyono untuk menjabat sebagai kepala desa tidak terlepas dari dua alasan, yakni di satu sisi pada masa menjelang pemilihan umum tahun 2010 silam memang belum ada kandidat yang kuat&pantas untuk maju sebagai Kepala Desa selain Pak Masta. Di sisi lain, masyarakat memilih Kepala Desa yang saat ini menjabat karena faktor menyandang gelar “anak” dari mendiang alm.Buang Muhadi selaku orang yang memang dihormati sampai saat ini oleh masyarakat desa tanjung burung karena sisi kekharismatikannya. Hal itu lah salah satu faktor dasar yang menyebabkan mengapa masyarakat memilih bapak Rusdiyono sebagai Kepala Desa saat ini.
Tentu setelah keberhasilannya dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai calon kuat untuk menjadi Kepala Desa dan pada faktanya ia berhasil, tidak lupa untuk tetap melanjutkan strategi-strategi berikutnya untuk dapat mempertahankan kekuasaannya. Karena menurut Nicolo Machiavelli Kekuasaan adalah sesuatu yang harus diraih karena ia tidak datang begitu saja. Ia harus direnggut, dipertahankan, dan dalam mempertahankannya penguasa harus dicintai sekaligus ditakuti warganya. Demi kekuasaan pertimbangan-pertimbangan moral menjadi tidak relevan.
Ada beberapa kegiatan yang tidak lupa bagi seorang Kepala Desa untuk dilakukannya. Salah satunya adalah bagaimana agar hubungan antara Kepala Desa dengan masyarakat tetap bisa dekat, khususnya dalam sisi silahturahmi, yaitu dengan menghadiri acara-acara yang diadakan masyarakat. Pernikahan, Pesta Rakyat, Tahlilan, juga menjenguk warga yang sedang sakit.
Berdasarkan data yang penulis dapat dari hasil wawancara dengan Kepala Desa, beliau memberi tahu bahwa ia tidak segan-segan untuk menjenguk bahkan sampai membawanya ke rumah sakit apabila warganya ada yang sakit keras.[9]
Selain itu, salah satu kegiatan yang dilakukannya adalah memberikan bantuan dari Negara berupa  sumbangan beras yang didapat dari pemerintah. Namun sangat disayangkan bahwa dari beberapa hasil wawancara dengan beberapa informan dari pihak warga desa tanjung burung bahwa pembagian beras itu sudah sangat jarang sekali bahkan sama sekali tidak ada. hal ini bertolak belakang oleh apa yang disampaikan Kepala Desa kepada Penulis kala itu, beliau menuturkan,
“Dulu memang saya bagi-bagi beras hasil bantuan pemerintah per bulannya dan langsung  bekerja sama dengan RW dan RT untuk membagi langsung ke warga, cuma memang sekarang kalo beras saya tampung dulu selama beberapa bulan baru dikeluarkan kasih ke warga.”
Karena bantuan beras miskin yang seharusnya dikasih sebulan sekali, tapi dia kumpulkan terlebih dahulu dan baru dibagikan setiap tiga bulan sekali. Karena menurutnya kalau diberikan tiap sebulan sekali dengan tiap KK dapat 1Kg bakal tidak efisien waktu. Dengan memberikan tiap tiga bulan sekali kepada warganya, warga bisa dapat lumayan banyak sekali ambil tidak 1Kg setiap ambil di kelurahan jadi bisa sekaligus dapat 3Kg tiap KK.
Berikut merupakan cara cara penguasa mempertahankan kekuasaan ditengah masyarakat:
1.      Membuat Peraturan Yang Menguntungkan
  1. Membuat belief system.
  2. Melakukan penguatan birokrasi dan administrasi
  3. Mengadakan konsolidasi horizontal dan Vertikal
  4. Menguasai keahlian tertentu dan bidang lainnya
Untuk melihat apakah warganya tetap Respect atau menaruh hormat kepada dia. Dia menguji dirinya pada saat pemilhan gubernur Banten. Pada saat itu dia mengajak seluruh warganya untuk memilih Ratu Atut sebagai warganya. Kalau Atut menang berarti warganya masih hormat kepadanya, tetapi jika atut kalah di daerahnya, maka dia beranggapan kalau dirinya sudah tidak dihormati lagi oleh warganya dan ia mengaku jika atut kalah dia tidak ingin mencalonkan diri lagi karena warganya saja sudah tidak patuh dengan perintahnya.[10]
Hasilnya adalah Atut menang dan itu sekaligus memberikan keuntungan tersendiri bagi Kepala Desa saat ini. Ia berhasil menguji bahwa masyarakat di desa tanjung burung masih “berpihak” kepadanya atau tidak. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, penulis berkesimpulan bahwa Keberhasilan Raja Atut sebagai Gubernur Banten berarti membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat desa tanjung burung masih berpihak juga kepadanya dan keberpihakan yang masih kuat itu akan mempengaruhi sebagai salah satu modal yang kuat bagi beliau saat ingin mengikuti pemilihan umum Kepala Desa di periode berikutnya.

Kekuasaan Elite dan Rutinisasi Kekuasaan dalam Tinjauan Teoritis
Menurut Soerjono Soekanto, Kekuasaan adalah kemampuan untuk memerintah dan kemampuan memberi keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tindakan-tindakan pihak lain (Komarudin,2011). Lain halnya dengan Gaetano Mosca yang mengatakan bahwa yang berkuasa itu adalah kelompok elit atau kelas penguasa (the Rulling Class) dan kebanyakan adalah yang diperintah (the Rulled Class). Masih banyak lagi tokoh yang membicarakan tentang Kekuasaan, namun penulis akan berfokus pada gagasan pokok pikiran secara garis besar dari beberapa tokoh, yakni Gaetano Mosca, Vilfredo Pareto, C.W.Mills untuk membahas tentang Teori Elite dan Max Weber tentang Rutinisasi Kekuasaan.
Gaetano Mosca merupakan salah satu ‘pemula’ dan ‘penemu’ teori elit bersama Pareto, walaupun pamornya masih satu tingkat dibawah pareto. Penjelasan kekuasaan oleh Mosca terdapat di dalam buku The Rulling Class versi bahasa inggrisnya dengan judul asli yaitu Elementi di Scienza Politica yang terbit pada tahun 1896. Kajiannya berfokus kepada kelas-kelas politik di Itali pada zamannya.
Berkaitan dengan kelas politik, Mosca mengatakan bahwa kelas politik yang tidak menyesuaikan diri dengan dengan zaman tidak akan bisa mempertahankan diri. Elite lain akan terbentuk dari kalangan yang diperintah dan dengan perjalanan waktu akan menggantikan mereka, kalau perlu dengan cara kekerasan. Konsep tersebut merupakan sindiran tentang pola kepemimpinan Rusdiyono selaku kepala desa yang dipertanyakan oleh warganya saat ini. Dua tahun sebenarnya waktu yang cukup untuk melakukan Starting Point oleh seorang pemimpin untuk menunjukan hasil kinerjanya, namun pada kenyataannya para warga banyak yang masih belum merasakan hasil kinerja yang cukup baik selama dua tahun kepemimpinan Rusdiyono sebagai Kepala Desa.
Pada dasarnya, terdapat dua kelas manusia: yang memerintah dan yang diperintah. Kelas pertama terdiri dari kaum minoritas terorganisasi yang akan memaksakan kehendaknya melalui “Manipulasi maupun kekerasan”, bahkan jauh lebih khusus, melalui sebuah Demokrasi. Mosca pun mengakui adanya sirkulasi elite. Ia percaya bahwa semua kelompok penguasa harus turun-temurun. Namun, sekedar menguatkan pernyataan sebelumnya bahwa akan terjadi pergeseran perimbangan politik dan dibutuhkannya bakat-bakat baru, maka  kelas penguasa harus menyesuaikan diri atau lebih mungkin tergulingkan. Pernyataan Mosca diatas menjadi peringatan dan menjadi Pekerjaan Rumah tersendiri bagi kepemimpinan Rusdiyono dalam menjalankan kekuasaan politik lokal nya di Desa Tanjung Burung.
Lain hal nya dengan Vilfredo Pareto, mungkin sebenarnya Pareto lah yang pantas disebut sebagai penemu awal teori elit. Pareto membagi sebuah elite menjadi dua kelompok, yakni Kelompok Governing Elite dan Kelompok Non-Governing Elite. Bagi Pareto, tidak akan ada perimbangan sempurna yang memungkinkan sebuah elite dapat berkuasa selamanya. Pareto menggunakan  istilah Serigala dan Singa untuk menjelaskan adanya perputaran sirkulasi kekuasaan elit.
Sebuah pemerintahan, harus memiliki sebuah “Naluri Kombinasi” , maksudnya seorang elit yang memerintah memerlukan daya cipta, kelihaian, dan daya meyakinkan seperti seorang “Serigala” dan harus memiliki “Persistensi Agregat” tentang Kebulatan Tekad dan kesediaan menggunakan kekerasan dari seekor “Singa”. Perebutan kekuasaan antara seekor Serigala dengan Seekor Singa pun akan terus bergulir.
Berdasarkan penjelasan dua kelompok Governing Elite dan Non-Governing Elite menurut Pareto, penulis mencoba merefleksikan fenomena yang terjadi di Desa tanjung burung. Kelompok yang termasuk dalam Government Elite adalah Rusdiyono selaku Kepala Desa dan Kelompok Non-Government nya adalah beberapa tokoh adat seperti Ustadz atau pun Jawara di Desa Tanjung Burung. Suatu saat kepemimpinan kharismatik akan tergerus oleh zaman, dimana pasti ada sirkulasi kekuasaan antara para kelompok elit dan non-elit.
Sedangkan menurut pandangan C.W.Mills, Elite yang dimaksud adalah kelompok kecil yang secara rutin berinteraksi, memiliki tujuan dan kepentingan yang sama.
Mills memperjelas penggambaran kekuasaan elite dalam bentuk piramida kekuasaan. Bagian paling puncak piramida diduduki elite berkuasa, yakni pemimpin yang menguasai tiga sektor penting. Lapisan kedua adalah pemimpin opini lokal, bagian ini melakukan tawar-menawar bagi elite-elite yang berkuasa. Kemudian lapisan ketiga adalah masa yang tidak memiliki kekuasaan dan orang-orang yang tidak terorganisasi yang dikontrol oleh kekuasaan yang diatas. [11]
Ada dua faktor yang menyebabkan kemunculan kekuasaan elite. Pertama, alat kekuasaan dan kekerasan yang saat ini jauh lebih besar daripada yang ada dimasa lalu. Kedua, sifat saling tergantung di antara elite yang merupakan hasil dari faktor struktur sosial yang dapat dilihat secara historis, dimana bentuk dan derajat sentralisasi institusi ekonomi, militer, dan politik sangat besar.
Setelah membicarakan tentang elit dan kekuasaan, sekarang kita akan membahas Teori Weber mengenai otoritas politik yang dikenal dengan istilah Tipe Ideal(Ideal Typus). Weber membedakan tiga tipe ideal dari keabsahan yang dapat meletakkan suatu pola hubungan dominasi, yakni Tradisional, Kharismatik, dan hukum atau Legal-Rasional[12].

Namun, yang akan dibahas lebih dalam yaitu tipe ideal Kharismatik dan Rutinisasi Kharismatik, dimana tipe ini sesuai dengan realitas struktur kepemimpinan dan kekuasaan yang terjadi di Desa Tanjung Burung.

Walaupun dalam pengertiannya, orang yang memiliki kekuasaan kharismatik didasarkan pada individu yang memiliki kemampuan khusus atau ciri-ciri yang luar biasa yang diyakini oleh pengikutnya, namun tidak pada kasus kepemimpinan Bapak Rusdiyono selaku Kepala Desa setempat. Kharisma yang ditimbulkan justru adalah hasil warisan dari mendiang bapaknya yang dahulu juga sempat menjadi Kepala Desa untuk dua periode.

Pernyataan diatas diperkuat oleh pendapat dari seorang sosiolog A.Giddens yang berkata bahwa,”Dominasi kharisma timbul dalam konteks sosial atau sejarah yang sangat beraneka ragam dan oleh karenanya tokoh-tokoh kharisma berjejeran mulai dari pemimpin-pemimpin politik yang tindakan-tindakannya telah memengaruhi perkembangan seluruh peradaban sampai ke sekian banyak jenis pemimpin kecil”[13]. Kurang lebihnya dalam hal kharisma, mungkin bisa dikatakan  bahwa kepemimpinan mendiang dari alm.bapak rusdiyono lah yang lebih kuat dibanding kharisma yang dimiliki oleh Kepala desa sekarang. Namun dibalik itu, Modal kepercayaan Masyarakat menjadi salah satu Modal yang penting untuk membangun kekuasaan oleh bapak Rusdiyono.

Menurut Weber, jika para pengikut mendefinisikan pemimpin mereka sebagai seseorang yang berkharisma, maka ia cenderung sebagai pemimpin terlepas dari benar tidaknya ia memiliki ciri yang menonjol. Karena, seorang pemimpin kharismatik, bisa saja seorang yang biasa saja. Pernyataan weber tentang hal yang telah disebutkan pun memang benar adanya. Dilihat dari sejarah bapak rusdiyono untuk menjadi kepala desa pun, dia tidak memiliki modal apapun yang mumpuni -pada saat itu- untuk menjadi seorang pemimpin baik modal maupun mental dan sifat kharismatik karena yang memiliki sifat kharismatik itu sendiri adalah berasal dari mendiang ayahnya.

Organisasi apapun yang memusatkan kepemimpinannya pada pemimpin kharismatik, pasti tidak akan bisa secara ajeg mempertahankan organisasinya. Karena berawal dari pertanyaan bahwa “Bagaimana jika pemimpin kharismatik itu sudah tidak ada?”. Pastilah para anggota staffnya (dalam kasus desa Tanjung Burung adalah Masyarakat sebagai penentu dan penilai calon penerus Kepala Desa) akan menggunakan berbagai strategi agar dapat mencari pengganti dari pendahulunya yang kharismatik dengan orang baru yang kharismatik lagi. Namun, sekalipun berhasil ditemukan , dia tidak akan memperoleh aura sama seperti pendahulunya. Agaknya hal ini sesuai dengan kenyataan di desa, bahwa Kepala desa yang saat ini menjabat –sekalipun sudah dua tahun- masih belum dapat dikatakan sebagai sosok pemimpin yang kharismatik seperti yang diharapkan warga. Karena, berdasarkan data yang didapat dari hasil wawancara kepada beberapa warga dan salah satu tokoh adat di desa Tanjung Burung menyatakan bahwa kepemimpinan Kepala desa yang saat ini menjabat masih kurang. Baik dari hal kepemimpinan dan juga kepribadiannya.

Salah satu cara mempertahankan kekuasaan adalah dengan melakukan rutinisasi kharismatik. Dalam suatu organisasi, khususnya dalam hal organisasi pemerintahan desa, para staff dan juga masyarakat sekitar harus membuka peluang bagi pemimpin kharismatik merencanakan penerusnya dan mentransfer karisma tersebut secara simbolik kepada garis keturunan berikutnya.

Nyatanya, dalam struktur kepemimpinan di desa tanjung burung, dukungan keluarga dan dukungan dari masyarakat sekitar sangat mempengaruhi pemilihan umum Kepala desa di tahun 2009 dimana bapak Rusdiyono yang pada akhirnya terpilih menjadi seorang Kepala desa. Hal tersebut menunjukan bahwa masyarakat mendukung dan berharap bahwa bapak Rusdiyono dapat menggantikan mendiang ayahnya yang dulu pernah menjabat sebagai seorang Kepala desa tanjung burung untuk menjadi kepala desa yang lebih baik kedepannya. Secara tidak langsung, dapat dikatakan bahwa fenomena rutinisasi kekuasaan kharismatik yang terjadi di Desa tanjung burung, berpotensi menjadi suatu tradisi politik lokal.





Penutup

Kekuasaan, Politik, Elit adalah tiga hal yang mungkin menjadi tujuan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini. Baik dalam ranah perpolitikan yang makro bahkan ranah perpolitikan yang mikro atau dalam hal ini kita sebut dengan politik lokal. Tidak menutup mata, ketiga hal tersebut menjanjikan suatu Privilige yang sangat menguntungkan kita dalam kehidupan kita bermasyarakat. Begitu pula yang terjadi di dalam pola kepemimpinan di Desa tanjung burung.

Kesempatan ditambah peninggalan kharismatik ayahnya yang melekat dalam diri Rusdiyono menjadikannya sebagai seorang Kepala Desa saat ini. Suatu hal yang sangat tidak tidak pernah ia duga sebelumnya. Namun, sikap baik berpihak padanya. Lantas, tak mau kehilangan kesempatan, berbagai strategi politik seperti pendekatan massa selama tiga tahun untuk membangun trust dan menjadi modal awal ia maju sebagai Kepala Desa dan akhirnya terpilih untuk periode 2010-2014.

Namun, dibalik kepemimpinannya tersebut, di awal karier nya sebagai Kepala Desa masih ada banyak hal yang harus dicapai oleh Rusdiyono. Uang memang dapat menjadi sebuah Mesin Politik yang menggerakan kekuatan kita mengarah pada sebuah kekuasaan politik, namun tidak dilupakan bahwa ada skill(kemampuan) yang harus dipegang, yaitu wibawa seorang pemimpin dan cara pemimpin mengolah kekuasaan. Meminjam salah satu konsep dalam Dramaturgi Erving Goffman, tentang Impression Management, seorang Pemimpin haruslah memiliki Impression Management yang sangat baik dan total untuk dapat menjalankan peran dengan baik kepada khalayak.

Sejauh hasil pengamatan Penulis, kepemimpinan Rusdiyono masih belum cukup kuat untuk dapat menjalankan tugas pertama dalam hidupnya untuk menjadi seorang Pemimpin lokal atau Kepala Desa di Desa Tanjung Burung. Karena, yang menjadi tolak ukurnya adalah melihat bagaimana respons masyarakat tentang kepemimpinannya saat ini. Dan dari beberapa responden mengatakan bahwa masih jauh lebih baik kepemimpinan Kepala Desa Sebelumnya. Ini menjadi Tugas yang cukup berat, namun masih bisa terkejar selama dua tahun ini untuk menunjukan bahwa ia bisa menjadi lebih baik. Mungkin pada dasarnya Pendidikan politik sejak dini itu jauh lebih bagus untuk mendongkrak mobilitas vertikal kita saat ingin menjadi calon pemimpin, baik di tingkat lokal maupun di tingkat negeri.




















Daftar Pustaka
Badrun, Ubeidillah. 2012. Bahan Ajar Perkuliahan Sosiologi Politik. Jakarta: Jurusan Sosiologi UNJ
Henslin, James M. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi Jilid I. Penerbit Erlangga
Ritzer, George. 2011. Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Post Modern. Bantul: Kreasi Wacana

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Jakarta
Upe, Ambo. 2010. Tradisi Aliran dalam Sosiologi dari Filossofi Positivistik ke Post Positivistik. Jakarta:  PT. Raja Grafindo Persada






[1] Ubeidillah Badrun, Bahan ajar sosiologi politik jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta
[2] Hasil wawancara dengan Bapak Sanurbi selaku tokoh masyarakat, tanggal 22 April 2012 pukul 09.00 wib sampai selesai
[3] Ibid
[4] Ibid
[5] Wawancara dengan bapak Rusdiyono selaku Kepala Desa, tanggal 21 April 2012 pukul 09.00 Wib sampai selesai
[6] Op.Cit
[7] Wawancara dilakukan dengan Ibu Mia pada tanggal 22 April 2012 pukul 10.12
[8] Wawancara dilakukan penulis pada tanggal 22 April 2012 pukul 10.12 di undakan tangga tempat ibu-ibu desa Tanjung Burung mencuci baju
[9] Hasil wawancara dengan Bapak Rusdioyono tanggal 22 April 2012 pada jam 10:00 wib
[10] Ibid
[11] Poloma, Margaret M, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Penerbit Rajawali Press, 2000
[12] Ritzer, George, Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2011, Hal.140-147
[13] Upe, Ambo, Tradisi Aliran dalam Sosiologi Dari Filosofi Positivistik ke Post Positivistik, Jakarta: PT Rajawali Press, Hal.209

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar